SEJARAH INDUSTRI PENERBANGAN INDONESIA (part 2)

II. UPAYA UNTUK MEMBANGUN SEBUAH INDUSTRI PESAWAT 
Sikumbang
  
      Sejalan dengan prestasi yang sudah diperoleh dan untuk memungkinkannya untuk mengembangkan lebih cepat, berdasarkan Kepala Staf Angkatan bahasa Indonesia Keputusan No Air 488, Agustus, 1960 Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) atau Badan untuk Persiapan Industri penerbangan karena itu didirikan. Diresmikan pada 16 Desember 1961, tubuh memiliki fungsi mempersiapkan pembentukan sebuah industri penerbangan dengan kemampuan untuk mendukung kegiatan penerbangan nasional di Indonesia.

      Berkaitan dengan ini, pada tahun 1961 LAPIP menandatangani perjanjian kerjasama dengan CEKOP, sebuah industri pesawat terbang Polandia, untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia. Kontrak meliputi pembangunan fasilitas manufaktur pesawat terbang, pelatihan SDM dan memproduksi, di bawah lisensi, PZL-104 Wilga, yang kemudian dikenal sebagai Gelatik (beras burung). Pesawat yang serial diproduksi di 44 unit dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian, transportasi ringan dan aero-club.

      Pada periode yang sama hampir 1965, melalui Keputusan Presidencial, KOPELAPIP (Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang) atau Command Eksekutif Penyusunan Aviation Industry dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari (Berdikari Aircraft Industry) didirikan.

      Pada bulan Maret 1966, Nurtanio meninggal saat penerbangan pengujian pesawat terbang, dan dalam rangka memperingati kontribusi yang berharga untuk negara dan bangsa, KOPELAPIP dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari kemudian digabungkan ke LIPNUR / Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio Nurtanio atau Lembaga Industri Penerbangan. Dalam LIPNUR pengembangan lebih lanjut menghasilkan pesawat latih dasar LT-200 yang disebut dan lokakarya dibangun untuk setelah-penjualan-layanan, pemeliharaan dan perbaikan & overhaul.

      Pada tahun 1962, berdasarkan dengan Keputusan Presidencial, para Teknik Penerbangan ITB (ITB Penerbangan Bagian Teknik) didirikan sebagai bagian dari Departemen Mesin yang tersedia. Oetarjo Diran dan Liem Keng Kie adalah perintis dari bagian penerbangan. Kedua tokoh di antara mereka termasuk dalam Program Beasiswa Overseas Student. Dimulai pada tahun 1958, melalui program ini, jumlah mahasiswa Indonesia dikirim ke luar negeri (Eropa dan Amerika Serikat).

      Sementara itu beberapa upaya lain dalam merintis pendirian industri pesawat terbang juga telah terus dilakukan oleh pemuda Indonesia - BJ Habibie - dari tahun 1964 sampai tahun 1970-an.

III. PENDIRIAN INDUSTRI PENERBANGAN INDONESIA

     
PERIODE Merintis
 
   
Sikumbang
      Lima faktor utama yang memimpin ke arah pendirian IPTN adalah: Ada beberapa orang Indonesia yang sejak sepanjang waktu bermimpi untuk membangun pesawat dan mendirikan sebuah industri pesawat terbang di Indonesia, beberapa orang Indonesia yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun pesawat dan industri pesawat terbang ; beberapa orang Indonesia yang, di samping menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan mereka juga berdedikasi tinggi untuk memanfaatkan keahlian mereka untuk pembentukan sebuah industri pesawat terbang, beberapa orang Indonesia yang ahli dalam pemasaran dan penjualan pesawat untuk baik nasional maupun internasional; kemauan politik dari Pemerintah yang berkuasa.

      Integrasi menyelaraskan faktor yang disebutkan di atas telah membuat industri pesawat terbang Nurtanio dengan fasilitas yang memadai.

      Itu semua dimulai dengan Bacharuddin Jusuf Habibie, pria yang lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan (Sulawesi), pada tanggal 25 Juni 1936. Dia lulus dari Teknik Aachen Belajar Tinggi, Departemen Konstruksi Pesawat, dan kemudian bekerja di MBB (Masserschmitt Bolkow Blohm), industri pesawat terbang di Jerman sejak 1965.

      Ketika ia hendak mendapatkan gelar doktornya, pada tahun 1964, ia memiliki yang kuat bersedia untuk kembali ke negaranya untuk berpartisipasi dalam program pembangunan Indonesia di bidang industri penerbangan. Tetapi manajemen KOPELAPIP menyarankan dia untuk terus mencari lebih banyak pengalaman, sambil menunggu kemungkinan membangun industri pesawat terbang. Pada tahun 1966, ketika Adam Malik, Menteri Luar Negeri Indonesia mengunjungi Jerman, ia meminta Habibie untuk berkontribusi pikirannya untuk realisasi Pembangunan Indonesia.

      Menyadari bahwa usaha pendirian industri pesawat terbang tidak akan mungkin dilakukan oleh dia sendiri, Habibie memutuskan untuk mulai merintis untuk mempersiapkan tenaga kerja terampil tinggi yang pada waktu yang ditentukan bisa setiap saat akan digunakan oleh industri pesawat terbang masa depan di Indonesia. Segera Habibie membentuk tim sukarela. Dan di awal 1970 tim dikirim ke Jerman untuk mulai bekerja dan belajar ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang penerbangan di HFB / MBB, di mana Habibie bekerja, untuk melaksanakan perencanaan awal mereka.

      Pada periode yang sama, kegiatan serupa juga dirintis oleh Pertamina (Bahasa Indonesia Oil Company) dalam kapasitasnya sebagai agen pembangunan Indonesia. Dengan kapasitas seperti Pertamina berhasil membangun Industri Krakatau Steel. Ibnu Sutowo, kemudian Dirut Pertamina memberikan kontribusi pemikirannya bahwa transfer teknologi proses dari negara maju harus dilakukan dengan konsep yang jelas dan nasional yang berorientasi.

      Pada awal Desember 1973, Ibnu Sutowo bertemu dengan Habibie di Dusseldorf, Jerman, di mana dia memberikan penjelasan yang rumit untuk Habibie tentang Pembangunan Indonesia, Pertamina dengan mimpi pendiri industri pesawat terbang di Indonesia. Hasil dari pertemuan tersebut adalah penunjukan Habibie sebagai Penasihat Pertamina Presiden, dan ia diminta untuk segera kembali ke Indonesia.

      Pada awal Januari 1974, menentukan langkah menuju pendirian industri pesawat telah diambil. Realisasi pertama adalah pembentukan sebuah divisi baru yang khusus dalam teknologi canggih dan teknologi penerbangan urusan. Dua bulan setelah pertemuan Dusseldorf, pada 26 Januari 1974 Habibie dipanggil oleh Presiden Soeharto. Pada pertemuan tersebut Habibie ditunjuk sebagai penasehat Presiden di bidang teknologi. Ini adalah hari pertama Habibie memulai misi resminya.

      Pertemuan-pertemuan ini menghasilkan kelahiran Divisi (Advanced Technology & Teknologi Penerbangan Pertamina) ATTP yang menjadi tonggak untuk pembentukan BPPT dan bagian dari IPTN.

      Pada bulan September 1974, ATTP menandatangani perjanjian dasar kerjasama lisensi dengan MBB, Jerman dan CASA, Spanyol untuk produksi helikopter BO-105 dan pesawat sayap NC-212 tetap. 


                                                                                                   terjemahan dari : http://www.indonesian-aerospace.com/history/history.htm

lanjut halaman berikutnya : 1, 2, 3